Bisnis

Bisnis Merchandise /Aksesoris Sepakbola Lokal di Indonesia Sekarang Ini

Sudah Tidak Seindah Tendangan Sudut David Beckham

Diawali dengan surat pembekuana PSSI melalui SK Menpora Nomor 01307 tanggal 17 April 2015 dari Menegpora Iman Nahrowi yang otomatis memberhentikan semua kegiatan sepak bola di Indonesia, padahal waktu itu kompetisi sudah berjalan. Lalu mulailah timbul kontroversi di masyarakat, namun masing – masing pihak sebagai para pengambil keputusan merasa paling benar baik dari Kemenegpora maupun PSSI. Sekarang perseteruan ini sudah memasuki babak baru, selain masalah hukum yang panjang dan melelahkan juga sudah masuk ke ranah pelanggaran HAM. Intinya adalah nasib para pemain (termasuk keluarga karena sebagaian besar dari mereka merupakan tulang punggung keluarga), official, dan klub, belum termasuk para fans dan berbagai macam usaha mikro dan kecil menengah (UMKM) yang terimbas karena konflik ini. Menurut Komnas HAM, “Terutama menyangkut beberapa hak, yaitu hak atas kesejahteraan, hak pengembangan diri, hak informasi dan hiburan, serta hak untuk memperoleh pengadilan”, ucap Siane Indriani, Komisioner Komnas HAM Bidang Pemantauan dan Penyidikan, (Pelaku Sepak Bola Adukan Menpora ke Komnas Ham, CNN Indonesia, 27/07/2015). Ketika didatangi para pegiat sepok bola Indonesia.

Jika pada hari biasa pada keadaan normal para pedagang bisa meraup untung sampai jutaan rupiah pada saat tim – tim kesayangannya bertanding di stadion mereka, dengan menjual merchandise yang terdiri dari jersey, fleyer dan jaket berlambang kesebelasan masing – masing klub, sekarang tiba – tiba tidak ada penjualan dan berakibat berkurangnya pemasukan akibat kompetisi yang terhenti.

“Penurunannya hampir separuh dari kondisi normal. Tidak seperti ketika liga masih bergulir,” kata Miftahur Ifayati, pramuniaga di toko merchandise Aremania, City of Arema, Senin 1 Juni 2015.
Pada musim lalu, ketika kompetisi ISL berjalan dengan normal, penjualan di tempatnya rata-rata mencapai 70 pieces merchandise setiap harinya. Koleksi terdiri dari jersey Arema, boneka singa, hingga jaket tim bisa terjual setiap hari. Penjualan akan meningkat tajam jika skuad Singo Edan sedang berlaga di kandang, Stadion Kanjuruhan. (Tak Ada Sepakbola, Penjualan Aksesoris Bola Lesu, bola.viva.co.id, 2 Juni 2015), senasib dengan:

Pelaku usaha kecil di sektor perdagangan kostum dan aksesoris tim Persib terancam gulung tikar. Setelah sebulan lalu turun drastis akibat terhentinya Liga Indonesia, beberapa hari terakhir omzet para pedagang benar-benar nol rupiah. Salah seorang pedagang kostum dan aksesoris di sekitar Stadion Jalak Harupat, Kabupaten Bandung, Tuti (44) mengatakan, berhentinya kompetisi sepak bola nasional membuat omzet dagangannya terjun bebas. “Penurunan omzet bisa mencapai 80 persen sejak sebulan terakhir,” katanya saat ditemui, Jumat (5/6/2015). (Persib tak Berkompetisi, Pedagang Kostum Terancam Bangkrut, pikiran – rakyat.com, 5 Juni 2015).

Yang paling tragis adalah nasib para pemain dan official, bahkan ada klub yang bubar seperti: Persipura, karena tidak bisa membayar pemainnya disebabkan kompetisi yang berhenti otomatis sponsor juga tidak bisa memberikan dananya.

Berjualan secara online

Untuk bertahan para pengusaha merchandise / aksesoris sepak bola lebih fokus pada liga sepakbola di Eropa yang sekarang mulai bergulir, mulai liga Inggris, Spanyol, Italia dan lain – lain, baik berjualan secara offline atau online seperti:melalui Blog, Media Sosial atau website penjualan barang – barang (.com) sambil menunggu Piala Kemerdekaan yang sudah lama digadang – gadang oleh pemerintah.

Advertisements