Cerpen

The Omar

(young man that changed himself, his family and his neighbours)

 

Omar kecil tinggal di sebuah kota Tangerang, diperbatasan dengan Jakarta, orang Betawi asli dan lingkungan yang ia tempati hanya satu kilo dari Jakarta, di pemukiman ini ia tinggal dengan ibunya dan dua adik – adik perempuannya. Lingkungan tempat ia tinggal agak kumuh, kalau hujan banjir dan banyak tetangganya yang terkena kasus sepert narkoba dan judi, tetangga dan temannya sudah banyak yang tertangkap dan ada temannya yang meninggal karena narkoba. Lingkungan yang ia tempati terkenal sebagai daerah narkoba dan judi togel, polisipun sering menrazia didaerah itu.

 

Sebenarnya mereka hidup dengan baik – baik saja, hingga bapaknya menikah lagi dengan tetangganya, setelah itu hari menjadi sulit bagi Omar dengan dua adiknya. Ibunya terserang stroke ringan yang membuatnya menjadi sulit bekerja, utungnya ia kerja sebagai pegawai negri yaitu sebagai guru SD, dengan jam kerja yang sudah panjang, Alhamdullillah ia mendapat banyak kemudahan dalam kerjanya. Tapi tidak bagi Omar dengan dua adik – adiknya, Omar kecil dan dua adik – adik perempunnya masih harus berjuang untuk menghidupi sekolahnya. Duit yang diterima ibunya hanya cukup untuk makan, minum dan biaya perharinya belum termasuk obat – obat sakit ibunya, sedangkan dari bapaknya hanya cukup buat uang jajan. Sebagian dari saudaranya memberikan razekinya semampunya untuk sekolah ia dan adik – adiknya.

 

Padi suatu hari, setalah pulang dari sekolah, Omar ingin bertemu dengan ibu Susi pemilik Yayasan sosial media kemanusian, dia memang terkenal sebagai orang kaya bukan saja di daerah itu tapi di Indonesia, Omar ingin berkerja apa saja untuk membantu keluargaanya. Beberapa kali Omar menunggui ibu Susi didepan rumahnya, susah sekali bertemu dia hingga satpam dirumahnya menegur Omar. Hari itu seperti biasa ia menunggu ibu Susi didepan Yayasannya yang memang saling berhadapan dengan rumahnya, alhamdullillah terlihat sebuah mobil mercy menuju ke rumah ibu Susi, terlihat wanita setengah baya keluar dari mobil, dengan sigap Omarpun lansung mendekati, ia sempat dihadang satpam dan supir, tapi ibu Susi menolongnya, setelah di terima di teras rumahnya, ibu Susi bertanya,

“anak ini siapa namanya? dan tinggal dimana?”,terdengar halus suara ibu Susi, katanya ibu Susi masih kerabat keraton di Yogyakarta, seorang bangsawan Jawa.

“nama saya Muhammad Omar bu, saya orang asli Betawi dan tinggal di Cipadu, saya mohon maaf atas kesalahan saya”,

“ tidak apa – apa, ada yang bisa ibu bantu?”

“saya ingin bekerja dengan ibu, apa saja”,

Ibu Susi tersenyum,”kamu sekarang kelas berapa?, terlihat oleh ibu Susi Omar masih mengenakan seragamnya.

Dengan mantapnya Omar menjawab,“saya sudah kelas enam SD bu”,

Ibu Susi tersenyun lagi, “kamu tidak belajar atau main dengan teman – teman kamu”,

“kalau belajar bisa malam, kalau main saya tidak perlu bu”

Ibu Susi agak tertarik berbicara dengan Omar, penuh percaya diri,

“kalau kamu kerja lalu dimana orang tua kamu?”, ibu Susi hanya ingin bicara saja, ia tidak mungkin memperkerjakan anak dibawah umur, dia tahu itu.

“ibu saya sering sakit – sakitan sedangkan bapak saya menikah lagi dan tidak mampu mensekolahkan saya dan adik – adik saya, saya hanya ingin membantu keluarga saya bu”, terlihat air matanya Omar berlinang.

Ibu Susi terkejut mendengar cerita itu, anak sekecil ini bisa berbicara dan berkeyakinan seperti itu, sementara satpam di tempat tinggal ibu Susi menceritakan, bahwa anak ini sudah berkali – kali ingin bertemu ibu Susi.

Dengan menghela napas panjang ibu Susi sambil mengelus kepala Omar, dengan tenang ia mengatakan,

“coba nanti ibu atau bapak kamu bertemu dengan ibu disini, ibu usahakan untuk memberikan beasiswa kepada kamu dan adik – adik kamu”, anak kecil seperti dia tidak mungkin berbohong, ibu Susi cuman ingin tahu masalah yang sebenarnya terjadi,

Tapi jawaban Omar benar – benar di luar perkiraan ibu Susi,

“saya hanya ingin berkerja bu, saya hanya ingin membantu keluarga saya”, dia pikir beasiswa hanya untuk dia dan adik – adik lalu untuk biaya obat – obat ibunya, uang jajanya bagaimana?.

Ibu Susi dengan tenang berkata,

“kamu sudah membantu keluarga kamu, coba ibu bertemu dengan keluarga kamu dulu”

Dan dengan penuh pengertian yang diberikan ibu Susi, Omarpun kembali kerumahnya dengan berita yang Ibu Susi sampaikan kepadanya.

 

Sesampainya Omarpun langsung memberitahukan kepada ibunya,

alhamdullillah, ada yang bisa membantu kamu dan adik – adik kamu”

“iya bu, tapi saya masih ingin berkerja bu, bukan beasiswa saja”

“kamu harus tetap bersyukur, ibu Susi orang pinter tahu apa yang harus dikerjakan, tapi berani juga kamu menemui ibu Susi pantes kamu beberapa hari ini pulang sore”

“dia mau bertemu ibu dan bapak ingin membicarakan semuanya”

“kapan dia punya waktu?”

“minggu sore, bagaimana bapak, bu?”

“coba kamu temuin bapak, ceritakan semuanya”

“saya malas bu”

“kamu jangan begitu, biar bagaimanapun ia bapak kamu”

“iya bu”,

Sorenya Omar kerumah Bapaknya, bapaknya mengkontrakan rumah untuk istrinya yang baru, dia diberitahu oleh ibu tirinya bahwa Bapaknya sedang tidak ada, sedang ada “proyek tanah”, tidak tahu benar atau tidak.

 

Minggu sorepun tiba, pergilah Omar, ibunya Omar dan pamannya adik ibunya ke rumah ibu Susi. Pamannya sengaja diajak untuk membimbing ibunya Omar karena bapaknya sudah tiga hari tidak pulang kerumanya Omar. Jarak rumah ibu Susi cukup dekat hanya beda kelurahaan, mereka menaiki motor bertiga.

Dirumah ibu Susi, mereka diterirma di ruang tamu, ruangnya besar sekali banyak lukisan – lukisan besar dan patung bermacam bentuk. Ibu Susi melihat ibu Omar terlihat haru, setelah bersalam – salan, mereka kemudian berbicara,

“saya meminta maaf, saya yang telah menyuruh Omar untuk datang kerumah saya dengan ibu dan bapaknya, saya tidak tahu kalau ibu sedang sakit”,

“kami yang meminta maaf bu, gara – gara Omar ibu Susi jadi susah”   ,

“ini bapak Omar?”,Tanya ibu Susi melihat laki – laki di sebelahnya Omar.

“ini pamanya Omar bu, bapak Omar sedang tidak bisa”,

Tahu – tahu Omar nyletuk,”pergi sama istri mudanya”,

“jangan begitu Omar, ngga enak dengan ibu Susi”,

Ibu Omar langsung bicara tentang banyak hal, ibu Susi yang mendengarkan terlihat terhenyak mendengar kisah hidup Omar dan keluarganya.

“saya tidak tahu harus berbuat apa, setelah mendengar cerita ibu Omar, saya akan usahakan selain Omar dan adik – adiknya mendapat beasiswa dan ibu juga mendapat perawatan yang baik”,

“saya sudah baik – baik saja bu, yang penting anak – anak saya sekolahnya bisa selesai dengan baik”, ibu Susi semakin terharu.

Tiba tiba Omar berteriak,

“saya ingin berkerja bu!”,bicarannya ditunjukan ke ibu Susi.

“jangan nakal Omar, saya mohon maaf bu Susi, anak ini memang sifatnya agak keras”, ibunya sedikit berbicara tegas.

“tidak apa – apa bu, memangnya Omar mau kerja apaan”, Tanya ibu Susi, usahanya untuk meredahkan keinginan Omar.

“apa saja, yang penting saya dapat duit untuk membantu ibu dan adik – adik saya bu”,

Sebenarnya terlihat baik keinginan Omar, tapi sekarang ini memperkerjakan anak – anak bisa terkena pidana. Namun akhirnya dengan niat yan baik dan izin keluarga Omar, dia akan tinggal di rumah ibu Susi, dia akan sering membantu kerjaan ibu Susi seperti mengambil tas, memcopy laporan dan sebagainya kebetulan anak – anak ibu Susi sedang kuliah di luar negri, tinggal ibu Susi dengan suaminya, sedangkan bapaknya Omar akan diberitahukan setelah dia pulang.

 

Waktu berlalu, sekarang Omar sudah besar, sudah baru lulus SMK, sedangkan ibu Susi mengingkan ia agar kuliah bahkan kalau perlu keluar negri sama dengan anak – anak dia, ibu Susi berkeinginan seperti itu karena ia melihat Omar rajin membantunya dari pagi setelah sholat shubuh, mencuci, mengepal, lalu sekolah sepulang dari sekolah langsung membantu kerjaan ibu Susi, dia lakukan terus sampai tidak terasa sudah ia lulus SMK, Omarpun terlihat cukup pandai dikelasnya, selalu mendapat rangking dikelasnya. Itu yang membuat ibu Susi menyuruh dia kuliah di luar negri. Tapi dengan penuh kesadaran Omar merasa ada ibu dan adik – adiknya yang masih butuh kehadirannya. Hal itu dia katakan didepan ibu Susi, suaminya dan kakak – kakaknya, anak ibu Susi. Akhirnya ibu Susi tidak berbuat banyak dan akhirnya memasukkan ia ke Universitas di dekat daerahnya. Omar meminta agar masuk di Fakultas Teknik, Jurusan Teknik Arsitektur, selain sesuai dengan sekolahnya waktu dia SMK, dia juga memedam keinginan untuk menjadi seorang arsitek.

 

Didalam kampus Omar bukan mahasiswa yang aktif dalam organisasi di kampusnya atau bergaul dengan sesama temannya, sedikit sekali temannya di kampus. Sama sewaktu ia sekolah dulu, selesai kuliah ia langsung pulang, langsung kerja, bedanya ia sekarang kerja di salah satu perusahaan besar ibu Susi yang sekarang di pimpin oleh salah satu anaknya. Perusahaan itu bergerak di bidang kontraktor pembangunan mall dan apartment, sesuai dengan bidang kuliah Omar.

Pagi itu, sebelum kuliah Omar dipanggil ibu Susi dan kakaknya di ruang keluarga,

“saya ada proyek mall di Bandung, coba lihat – lihat daerah disana, kamu sekalian design mall dan perkiraan biayanya”, kakaknya memberikan pengarahan.

Dalam hati Omar berkata,”waduh ini proyek besar, tidak main – main, pertanyaannya apa saya sanggup?”,

“saya tidak berani mas”,

“kamu cuman melihat dulu, kalau jadi, insya Allah kamu akan dibantu oleh staf yang lain”,ibu Susi memberikan semangat namun masih dengan sifat ketenangan seperti seorang bangsawan Jawa. Omar memang sering mendapat nasehat – nasehat dari ibu Susi.

“kamu lihat dulu, saya dengar dari staf di lapangan kamu hebat kalau design bangunan, katanya kamu punya bakat arsitek, kalau kamu mau kamu bisa usaha sendiri di bidang arsitektur, nanti insya Allah kita akan bantu”, kakaknya juga memberi semangat.

“tidak gampang punya bakat arsitek, keahlian kamu asah waktu di SMK yah”,ibu Susi menambahkan

“iya bu, saya memang suka menggambar sejak saya kecil bu”, diberi amanah sebesar ini, bukan saja masalah kepercayaan, tapi keyakinan bahwa mereka yakin kalau saya bisa melakukan dengan benar, ditambah keinginan baru dia untuk membuat usaha sendiri berdasarkan keahlian sendiri, tapi harus dibuktikan dulu terutama kepada kakaknya dan ibu Susi.

“saya usahakan mas, tapi saya minta bimbingan dari mas, ibu Susi dan staf senior di lapangan”,

“pasti, selamat berusaha”

 

Dalam perjalanannya ke Bandung, ia berpikir kenapa baru sekarang terpikir untuk membuat suatu usaha, ada ibu Susi dan anak – anaknya yang mendukung, ia punya keahlian yang sudah diakui dan yang terpenting dia masih bisa menjaga ibu dan adik – adiknya setelah bapaknya meninggal tidak lama setelah ia tinggal dirumah ibu Susi. Tidak mungkin berharap terus dengan keluarga ibu Susi, mereka sudah terlalu banyak berjasa kepada keluarganya, didalam batinnya mengatakan dia harus bisa demi ibu dan adik – adiknya. Diapun akan mulai merancang jenis usahanya setelah pulang dari Bandung.

 

Waktupun terus berlalu, Omarpun lulus kuliah dengan baik sekali. Seiring dengan kelulusan Omar, izin perusahaan dari pemerintah keluar hingga ia bisa menjalankan operasional perusahaannya. Dan alhamdullillah ada banyak proyek – proyek yang datang baik dari kakak – kakaknya atau dari pihak swasta lainya. Sementara adik – adiknya Omar keadaannya sekarang sudah jauh lebih baik, yang pertama sudah lulus SMK dan akan masuk kuliah di kampus Omar, ingin mengambil jurusan Ekonomi sedangkan si bungsu baru lulus SMP. Dengan pendapatan Omar sekarang dari usaha – usaha yang dimilikinya, dia sudah bisa mengambil tanggung jawab dari ibunya dan ibu Susi setelah bapaknya yang telah meninggal. Ibunyapun sekarang sudah pensiun, hingga Omar bisa mengurus adik – adiknya dan ibunya dengan baik di rumahnya yang baru.

 

Namun masih ada yang mengganjal dalam kehidupan Omar yaitu lingkungannya, dia sebagai orang asli disitu, orang Betawi, selalu merasa prihatin dengan linkungannya. Dalam hatinya,”udah kumuh, kalau hujan banjir lagi”. Sekarang yang menjadi permasalahan baginya dilingkungan dia terdapat banyaknya penyakit masyarakat yang ada disitu seperti obat – obat terlarang, penggunaan minuman keras, riba dan judi belum lagi terdengar ada masalah pelacuran, benar – benar komplit. Dia baru tahu bahwa bapaknya meninggal kerana masalah perjudian, dia strees karena selalu kalah, untung dia belum mengambil barang – barang dirumahnya, belum lagi teman – temanya yang sudah meninggal karena masalah obat – obatan terlarang. Diperparah lagi stigma bahwa orang Betawi sering berbuat masalah, makannya mereka membuat organisasi – organisasi kemasyarakatan yang tujuannya sebenarnya mulia, namun pada prakteknya tidak. Tapi tidak semua begitu, masalah amoral seperti itu siapa saja bisa, tanpa memandang suku apa, oleh sebab itu mereka harus disibukkan oleh kegiatan – kegiatan yang bersifat positif dan bermanfaat, makannya harus terjadi perubahan. Dia berpikir, dia belum sukses kalau dia belum pasti mengatasi masalah di lingkungannya minimal menguranginnya. Omarpun pernah membicarakan masalah itu kepada ibu Susi, dan ia mendukung niat Omar untuk memperbaiki lingkungannya dan memberikan nasihat – nasihatnya. Berdasarkan niat baik itu pula dia pangillah teman – temannya semasa ia kecil, termasuk ulama setempat dan pengurus RT/RW dari lingkungannya untuk bermusyawarah dirumahnya dalam rangka membicarakan penyakit masyarakat di lingkungannya.

Setelah mengucapkan salam, Omar pun mulai berbicara,

“kita semua merasa miris dengan keadaan lingkungan kita, selalu terjadi masalah yang merungikan kita semua, saya mempunyai ide untuk membuat sebuah usaha untuk mendayagunakan potensi – potensi yang ada, terutama anak mudanya, saya melihat adanya masalah – masalah sosial yang ada dikeranakan tidak adanya aktifitas yang positif di lingkungan kita”.

Ustadz Muhammad langsung berkata, “ane setuju dengan ide bapak Omar, ane juga berpendapat sama, kita harus punya kegiatan yang bagus dan positif terutama bagi pemuda – pemudi kita”, terdengar logat Betawi Arabnya.

“yaa saya juga berpikaran sama dengan bapak Omar, saya juga merasa miris dengan keadaan lingkungan kita, kemarin malam polisi menangkap seorang pegedar sabu di belakang rumah saya, kemudiaan saya dipanggil untuk menjadi saksi, benar – benar malu – maluin”, kata pak RT yang langsung diamini semua yang datang.

Pak RW kemudian bertanya kepada Omar,”kira – kira apa yang akan bapak lakukan, selama itu baik bagi lingkungan kita, kami pasti mendukung”, pak RW yang memang orang asli Betawi disitu.

“saya mempunyai ide untuk membuka usaha – usaha kecil seperi: cuci motor/mobil, bengkel, service HP/Jam, laundry, warnet dan menjahit, saya akan memberikan modal dan tempat untuk menjalankan usaha, ruko di didepan, di dekat jalan masuk ke lingkungan kita, punya saya, ada empat ruko yang saya kosongkan karena memang saya buat untuk menjalankan ide – ide saya, kita bisa melakukan sistem bagi hasil dengan sedikit pelatihan usaha, saya pikir dengan dukungan bapak – bapak dan para pemuda sekalian, Insya Allah kita bisa berhasil ”.

Alhamdullillah, akhirnya ada jalan juga, insya Allah, kita pasti berhasil, anepun hampir – hampir putus asa melihat situasi yang ada ”,kata Ustadz Muhammad yang langsung disambut bahagia oleh yang datang.

“kami juga akan mempersiapkan anak – anak muda kita, untuk menjalankan kegiatan tersebut”, kata pak RW.

“tapi anak muda yang mana?, sebagian anak muda kita sudah banyak yang kena masalah seperti narkoba, judi dan lain – lain, yang masih sekolah SMK mungkin bisa diandalkan”, ada nada pesemis dari Pak RT dengan logat Sunda yang kental.

“jangan terlalu pesimis pak, kita bisa gunakan pemuda – pemudi mushollah, sebagaian dari mereka putus sekolah dan menjadi penganggur, ane ngeri mereka terpengaruh keadaan”,kata pak Ustadz Muhammad.

Dari perwakilan anak muda si Ucok teman kecil Omar mengatakan, “kita pasti setuju kalau untuk yang baik – baik buat di lingkungan kita dan saya juga kenal baik sama Omar saya percaya dia akan berbuat yang baik demi lingkungan kita dan pada waktu digrebek seperti kata pak RT saya juga diajak polisi sebagai perwakilan anak muda untuk menjadi saksi, benar kata pak RT benar – benar malu – maluin”, terdengar logat Medannya hampir hilang.

“terima kasih Cok, kalau masalah pemuda, bapak – bapak yang paling tahu, saya terus terang tidak tahu menahu, saya sudah lama tidak ikut dalam kegiatan pemuda disini, tapi saya hanya mengingatkan, saya tidak perduli, siapa saja pemuda bisa kita berdayagunakan, termasuk yang bermasalah, justru mereka yang harus kita bina, dan saya kira, kita harus mampu mengarahkan mereka ke jalan yang lebih baik”.mereka agak terdiam mendengar kata – kata Omar, ditambahkannya

“saya berharap pak Ustadz, pak RT, pak RW dan teman – teman sekalian yang ada disini bisa melindungi dan mengayomi para anak muda yang ada di lingkungan kita, saya berharap sekali”.

“saya mengerti maksud bapak, kami butuh waktu untuk “menginventaris” pemuda – pemudi yang ada di lingkungan kita, ada baiknya kita membuat panitia agar rencana ini bisa berjalan dan untuk pertemuan – pertemuan di masa yang akan datang”,usul pak RW.

“oke, saya juga mengerti maksud bapak, yang penting usaha ini bisa berjalan dengan baik, ingat saudara – saudara sekalian, mereka juga adalah saudara – saudara kita, kita harus menyadarkan mereka bahwa ada tempat yang lebih bagi mereka kalau mereka mau berubah dan mereka pasti mau, nanti kalau mereka sudah kumpul saya akan memberikan motivasi kepada mereka”,kata Omar, dia tahu sekali maksudnya, kalau ada panitia pasti ada anggaran, tidak apa – apa yang penting semua bisa berjalan dengan baik. Dalam kepanitian itu Omar duduk sebagai penasehat bersama dengan Ustadz Muhammad dan di struktural ada pak RT dan pak RW dibantu pemuda sekitarnya.

 

Beberapa hari kemudian pak RW dan RT berhasil mengumpulkan pemuda – pemudi untuk menjalankan keinginan Omar, sebenarnya itu merupakan keinginan bersama untuk hari esok yang lebih baik. Berita tersebut di dapat dari Ustadz Muhammad kerena selain dekat dengan masyarakat pak Ustadz dan pak RW adalah penasehat dan pengurus daerah dari Organisasi kemasyarakatan Betawi yang terkenal di Jakarta, pantas cepat kalau untuk memobilisasi masa. Tapi Omar langsung berpesan bahwa rencana ini hanya untuk masyarakat di daerahnya dulu dan tanpa memandang suku mana, dan mereka menyetujuinya. Sebagian besar pemuda yang ada, adalah anggota organisasi kemasyarakatan Betawi dan sisanya orang dari daerah – daerah lainnya seperti dari Sunda, Jawa dan Batak, mereka di ikutkan karena mereka tidak ada kerjaan yang lain untuk bisa mengisi hari – harinya dengan cara yang baik, mereka menjadi tukang parkir, agen judi togel dll, masya Allah.

 

Tapi sekarang harus berubah, merekapun akhirnya berkumpul di aula gedung pertemuan RW, ada kira – kira 20 orang pemuda – pemudi yang ikut selain tokoh – tokoh masyarakat yang diundang semuanya untuk bermusyawarah membicarakan ide ini. Setelah pak RT, RW dan Ustadz Muhammad memberikan kata sambutan, Omar mulai berbicara,

Setelah mengucapkan salam, Omar langsung berbicara lantang,

“saudara semuannya ingin berubah”

“iya”, dijawab semuanya.

Sekali lagi Omar bertanya dengan keras untuk membangkitkan semangat

“saudara semuannya ingin berubah”

“iya”, dijawab semuanya lagi dengan lebih keras.

“saya akan memfasiltasi keinginan saudara kalian, tapi saudara – saudara harus sungguh – sungguh dalam berusaha, tidak main – main, ingat orang tua anda, ingat saudara – saudara anda, ingat teman – teman anda dan yang paling penting ingat Allah tempat saudara – saudara sekalian berdoa, tempat meminta, ingat saudara – saudara sekalian, Allah tidak akan merubah suatu kalau kaum itu tidak mau berubah, yang sudah lalu biarkan berlalu, Allah selalu menerima dosa setiap hambanya yang mau berubah dan bertobat”.

Agar tidak berlarut – larut berbicara sehingga bisa membuat pendengar menjadi malas dan mengantuk, Omarpun bercerita tentang rencana dia untuk membangun lingkunganya,

“saya mempunyai ide untuk teman – teman sekalian untuk membuka usaha kecil – kecilan seperti warnet, laundry, bengkel, menjahit dan usaha – usaha lain – lainnya terutama untuk saudara – saudara sekalian, saya tidak memandang anda dari suku mana, kalau anda mau berkerja keras pasti ada jalan, ikuti saya, sebagai awal rencana ini saya punya ruko yang akan saya pinjaman kepada kalian termasuk untuk modal usaha semuannya dari saya, kita pakai sistem bagi hasil, saya sebagai pemilik modal akan menguasai sebagian usaha anda dan memberikan pelatihan usaha sampai kalian bisa menjalankan usaha sendiri”

Tiba – tiba Ustadz berteriak Allahu Akbar, yang langsung diikuti dengan yang lainnya, Allhamdulillah, tergambar wajah – wajah ceria sebagai awal yang bagus untuk memulai suatu usaha, untuk memulai hidup yang baru.

 

Ditambahkan Omar,”Ya Allah, mudah – mudahan engkau berkahkan dan permudahkan usaha ini, sedangkan untuk masalah teknis silahkan hubungi panitia yang sudah terbentuk”.

Allhamdulillah, buat apa kita punya banyak rezeki kalau tidak bisa berbagi dengan yang lainnya, jangan sampai kita berpikir keanekaragaman hanya dilihat dari satu sisi seperti seni dan budaya tapi yang penting adalah cara hidup orang – ora      ng yang ada didalamnya. Amin

 

Selanjutnya “proyek” ini pun berjalan sesuai yang diinginkan, memang ada banyak masalah seperti: izin yang belum didapat dari pemerintah setempat, masih kurangnya sosilisasi hingga banyak yang mengira ada lowongan kerja, dan yang lebih parahnya mereka belum siap menjadi usahawan sehingga ada yang putus asa ditengah jalan dan membawa dana yang harus dibagikan sesuai janji. Namun semuanya harus bisa di atasi mengingat ini didasari semangat untuk merubah keadaan mereka kepada yang lebih baik. Omar dan para pemuka masyarakat setempat, terus memberi semangat kepada mereka yang mau merubah hidupnya, sedangkan Omar sekarang harus lebih memfokuskan tujuan hidupnya demi “idealismenya”.