Ekonomi

Upaya OJK yang Akan Mendidik Mayarakat

Agar Tenang Berinvestasi Dan dengan Cara Yang Benar

 

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) siap menangani masalah investasi yang dihadapi masyarakat. Apalagi korban penipuan investasi bodong bukan hanya berasal dari masyarakat yang belum melek keuangan. Tetapi juga berasal dari masyarakat kelas atas yang tergolong pintar.

Ketua Dewan Komisioner OJK Muliaman D Hadad mengatakan, melakukan dua kegiatan pokok dalam waspada investasi. Pertama, bagaimana masyarakat tidak kena tipu, Kedua adalah menyelesaikan masalah investasi tersebut secara efektif. Kalau ketipu juga, OJK harus bangun arrangement penyelesaian, apakah mediasi, arbitrase atau upaya lain, dan bahwa penyelesaian masalah lewat OJK gratis. (“Dua Senjata OJK untuk Tangani Masalah Investasi”, Republika.co.id, 20 November 2014)

Semua itu dimaksudkan untuk melindungi masyarakat dari jebakan – jebakan perusahaan – perusahaan investasi bermasalah yang sedang menghimpun dananya dari nasabah, juga untuk menjaga iklim investasi di Indonesia. Memang tidak semua perusahaan – perusahaan investasi itu bermasalah dan masuk dalam daftar, namun yang terpenting adalah untuk memberi ketenangan pada masyarakat dalam hal berinvestasi, hal itu perlu dilakukan, terlepas dari kontroversinya terutama dari perusahaan – perusahaan investasi yang mungkin takut akan masuk daftar.

OJK Mengeluarkan Daftar Perusahaan Investasi Bermasalah

Akhirnya Otoritas Jasa Keuangan (OJK) telah mengidentifikasi 262 penawaran investasi yang terindikasi bermasalah. Setelah ditelusuri, sebanyak 218 penawaran investasi tersebut tidak memiliki kejelasan izin dari otoritas berwenang. Sementara 44 sisanya berada di bawah naungan sejumlah otoritas, seperti Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil Menengah, Badan Pengawas Perdagangan Komoditi Berjangka (Bappebti), Kementerian Perdagangan, serta Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia. (“Ini 262 Perusahaan Investasi yang Tak Mempunyai Izin OJK”, Kompas.com, 10 November 2014). Upaya OJK itu sesuai dengan UU Perlindungan Konsumen No. 8 Tahun 1999, Pasal 4 dan 5 dan UU OJK Pasal 4 dan 6c.

Belajar dari masalah – masalah investasi yang ada dengan pola mirip multi level marketing (MLM) dan Investasi Syariah, seperti: 1). Golden Traders Indonesia Syariah (GTIS) di Jakarta yang menggunakan emas sebagai sarana untuk menarik nasabah dengan membawa cap halal dari MUI (Majelis Ulama Indonesia) namun ternyata produk-produk investasi emas yang ditawarkan itu menjebak sebagian masyarakat ke dalam produk-produk investasi emas bodong. (“Label Syariah Ternoda Emas Bodong”, InfobankNews.com, 11 Juni 2013). 2). Untuk menjaring investor, PT KLB (Koprasi Langit Biru) menawarkan dua paket investasi, yakni investasi paket kecil dan investasi paket besar. Investasi paket kecil bernilai Rp 385.000 atau setara dengan harga 5 kilogram daging dan investasi paket besar dengan nilai Rp 9,2 juta atau sama dengan 100 kilogram daging sapi. Profit yang didapat pada investasi paket kecil yang ditawarkan KLB adalah Rp 10.000 per hari. Angka itu akan dibagi kepada perusahaan Rp 9.000, sementara investor Rp 1.000. Dengan demikian, dalam satu bulan, investor mendapat profit sebesar Rp 150.000. Adapun investasi paket besar dibagi lagi ke dalam dua pilihan, yakni investasi non-Bonus Kredit Sepeda Motor (BKSM) yang bonusnya senilai Rp 1,7 juta per bulan (dari bulan ke-1 sampai ke-9). Memasuki bulan ke-10, investor akan langsung mendapat bonus Rp 12 juta. Pada bulan ke-24, investor juga dijanjikan akan mendapat keuntungan Rp 31,2 juta. 3). PT Gradasi Anak Negeri (GAN) didirikan pada Januari 2012. Perusahaan ini telah memiliki investor sebanyak 21.000 orang dengan dana investasi mencapai Rp 390 miliar. Untuk menjaring investor, PT GAN menawarkan paket investasi atas Sarden Kiku dengan keuntungan mencapai 10 persen dari modal awalnya setiap minggu. Sistem investasi yang ditawarkan PT GAN adalah dengan memberikan modal awal minimal Rp 5 juta kepada agen yang menawarkan paket. Calon investor dijanjikan akan mendapat 10 persen dari modal awal saat pekan kedua. Setelah itu, investor akan kembali mendapatkan profit sebesar 10 persen setiap minggunya hingga minggu ke-52. Bonus tambahan juga diperoleh investor jika berhasil menarik investor baru. Seluruh bonus diberikan secara tunai dan menyerahkan cek. Itu hanya sebagian dari masalah – masalah investasi yang ada di Indonesia yang sempat menyita perhatian kita. (“Inilah Modus Investasi Bodong ala Koperasi Langit Biru dan PT GAN”, Kompas.com, 7 Juni 2012)

Kesimpulannya, Pertama, Masyarakat juga harus disadarkan bahwa investasi tidak semudah yang dibayangkan, jangan hanya tahu untung saja dan harus bisa menyeleksi tawaran investasi yang datang, yang paling utama adalah mengukur risiko terlebih dahulu, bukan menghitung keuntungan. Yang kita lihat sekarang adalah kerusuhan dan kerusakan ada dimana – mana. Kedua, Untuk investasi yang berbasis syariah investor tidak hanya tahu halal haram saja dan tidak mengerti hukum investasi, bahwa investasi yang menawarkan profit tinggi juga memiliki risiko yang besar (high return, high risk). Tipe konsumen seperti ini pun banyak terdapat di industri keuangan syariah. Tidak heran, sosialisasi dan pemasaran produk-produk bank syariah sebagian masih mengandalkan masalah halal haram. Bahkan sebagiaan dari mereka sudah menanam duitnya sampai ratusan juta dan tidak jelas keberadaannya, yang menariknya sebagian dari mereka orang – orang yang terpelajar, mulai dari guru, dosen hingga pengusaha, kenapa mereka bisa tertipu. Ketiga, Namun pemerintah dan OJK tidak bisa lepas tangan saja, upaya OJK untuk memberitahukan kepada masyarakat tentang daftar perusahaan – perusahaan investasi yang bermasalah patut diancungin jempol, bukan saja perusahaan – perusahaan investasi bermasalah yang harus diberitahu namun perusahaan – perusahaan investasi yang baik juga harus diberitahu sesuai dengan Undang – Undang dan, Kempat, OJK bisa memanfatkan kesempatan ini untuk sering mengadakan pelatihan dan seminar tentang masalah investasi yang benar kepada masyarakat.